SEMINAR NASIONAL
“Peran Mahasiswa dalam
Membangun Kemandirian Bangsa”
Cibubur—Sebagai
serangkaian agenda MUNAS ke- VI BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh
Indonesia), di adakan seminar nasional bertemakan “Peran Mahasiswa dalam Membangun Kemandirian Bangsa” yang bertempat
di Aula Pandansari, Taman Rekreasi Wiladatika,Cibubur, Jakarta Timur. Acara
dimulai sekitar pukul 09.00 WIB yang diawali dengan penampilan musikalisasi
Puisi dari salah satu UKM seni STIAMI-Bengkel Seni STIAMI-dengan tema Bangkitlah
Pemuda Pertiwi. Dilanjutkan dengan penamplan Tarian tradisional dari Depertemen
Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta.
Sambutan pertama disampaikan oleh presiden mahasiswa
STIAMI sebagai tuan rumah penyelenggara musyawarah nasional BEM SI. Sambutan
kedua disampaikan oleh KORPUS BEM SI dan dilanjutkan dengan sambutan dari
pejabat STIAMI sekaligus membuka acara seminar nasional yang akan berlangsung
hari ini. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan mahasiswa,, yaitu negera ini
tidak mungkin bisa mandiri jika masih ada korupsi. Korupsi yang terjadi saat
ini sudah merasuk hingga pemerintah daerah bahkan desa, hingga tercipta budaya
korupsi berjamaah. Kedua, Narkoba yang sudah menjalar hingga ke sekolah-sekolah
setingkat SD. Biaya yang dikeluarkan
untuk mengatasi kasus narkoba sangat tinggi, untuk menangkap pengedar,
penyembuhan yang telah terkena narkoba juga sangat sulit. Terakhir yaitu
pmemerataan kualitas pendidikan bangsa. Ketiga hal ini merupakan permasalahan
bangsa yang bisa dipecahkan bersama-sama dengan berbagi fakta di forum ini dan
mencoba bersama-sama mencari solusi atas permasalahan yang ada terutama masalah
pemerataan pendidikan pusat dan daerah. Mahasiswa perlu mengambil sikap dalam
kondisi yang tidak sesuai dengan idealism mahasiswa dan diperlukan komitmen
untuk mensukseskannya minimal melalui pemberian contoh yang baik kepada publik.
Tidak hanya itu, turut hadir dalam seminar sebagai
keynote speaker, Bapak Jumhur Hidayat selaku Kepala BNP2TKI. Dalam kesempatan
ini beliau menyampaikan tentang pentingnya menjaga kebudayaan bangsa,sebagai
langkah awal kemandirian bangsa. Dewasa ini masyarakat Indonesia lebih menyukai
kebudayaan asing dibanding kebudayaan sendiri, karena kurangnya eksplorasi
kebudayaan bangsa sendiri. Dengan adanya eksplorasi kebudayaan bangsa sendiri
diharapkan agar menimbulkan ketertarikan dan kebanggaan terhadap bangsanya. Sebuah
bangsa yang mandiri adalah negara yang sebisa mungkin memenuhi kebutuhannya
dari dalam bangsanya sendiri, dengan memanfaatkan berbagai sumber daya yang
dimiliki. Salah satu akses untuk melakukan kemandirian itu adalah dengan
membuka usaha dan penyediaan lapangan pekerjaan pada bidang yang dicanangkan
mandiri sesuai potensi yang ada.
Acara semnas kali ini dimoderatori oleh Kartika
Jumadi, dengan 4 pembicara, antara lain
: Anindya Novyan Bakrie, Taufan Eko Nugroho Rotorasiko ( DPP KNPI), Ali Rahman
(Masyarakat Pertambangan Indonesia), Ali Syahrial (LP3EI). Masing-masing
pembicara menyampaikan tentang analisis sekaligus ide-ide tentang kondisi
Bangsa Indonesia saat ini. Anindya Bakrie, menyampaikan tentang bagaimana sosok
mahasiswa itu harus mempunyai rencana hidup yang visioner, mahasiswa mau kemana
setelah sarjana?.Hanya looking for job
atau making a job. Setali tiga uang dengan keynote speaker,
Bapak Taufan Eko Nugroho Rotorasiko ( DPP KNPI), menyampaikan tentang bagaimana
kearifan local itu perlu dikembangkan untuk kemandirian bangsa. “Factor utama
kedaulatan SDA adalah adanya peraturan atau kebijakan yang mengutamakana
kepentingan nasional/pro rakyat. Seperti yang tertuang dalam pasal 33 UUD 1945
yang mana tujuan akhirnya yaitu untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dengan demikian, maka berbagai kebijakan dan tuntutan regulasi yang dibuat
harus sejalan dan sinkron dengan amanat UU tersebut. Sehingga seberapa pun
besarnya kapitalisme asing, paham neoliberalisme ataupun derasnnya modal asing
masuk ke Indonesia, maka diharapkan negara kita bisa kuat dan siap
menghadapinya”, ungkap Bapak Ali Rahman selaku perwakilan Masyarakat
Pertambangan Indonesia. Sedangkan Bapak
Ali selaku Perwakilan dari LP3I, mengungkapkan bagaimana peran penting
kemandirian individu dalam mendukung adanya kemandirian bangsa, tergantung pada
mind set individu itu sendiri. Pemerintah
sebagai fasilitator harus berupaya untuk melakukannya guna mendorong
kemandirian bangsa. Dan sebagai agent of
change, sosok mahasiswa harus punya visi misi yang matang tentang masa
depan dirinya, karena mau tak mau, dan tidak bisa dipungkiri, kelak mereka
jualah yang akan menggantikan estafet kepemimpinan bangsa ini.
Sejatinya saat kita mampu, jangan sampai hanya
menjadi penonton meskipun secara kekuasaan ada di pemerintah. Sudah saatnya,
masyarakat kita berani menunjukkan kepercayaan dirinya. Indonesia perlu lebih
percaya diri untuk menunjukan jati dirinya kepada dunia luar, bahwa kita-
bangsa Indonesia -mampu berdikari tanpa harus terus bergantung selamanya pada
Negara lain. Kemandirian bangsa, itu yakin pasti ada. Semoga! (Uswah/Kominfo13)
